Waktu-waktu Mustahab untuk Berdo’a

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

(QS. Al-Mu’min: 60)

Sungguh besar kasih dan sayang yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita untuk meminta segenap dari keinginan kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui bahwa kita adalah makhluk lemah yang sangat butuh kepada-Nya, dan sungguh Dia-lah Rabb yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Pembaca rahimakumullah,
Setiap kita pasti menginginkan agar doa yang kita panjatkan dapat terwujud. Namun, ada beberapa hal terbesar yang dapat menjadi sebab doa kita dapat terwujud. Di antaranya adalah waktu dalam berdoa.

Pada kesempatan kali ini, kita tidak akan membahas seputar tatacara doa. Akan tetapi, kita akan membahas mengenai waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa, yang pada saat itulah kemungkinan besar doa kita akan diperkenankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada dasarnya, kita diperbolehkan untuk berdoa di mana dan kapan saja, terkecuali telah datang dalil yang melarang kita untuk memanjatkan doa (baik waktu maupun tempat) tersebut. Namun di antara sekian waktu yang ada, Allah subhanahu wa ta’ala telah memilihkan waktu (yang mustajab) untuk kita, yakni sebuah waktu yang jika kita bersungguh-sungguh berdoa di dalamnya, maka besar kemungkinan doa kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara waktu-waktu tersebut yaitu:

1⃣ Dalam keadaan sujud di waktu shalat

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Paling dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah oleh kalian doa ketika sedang sujud.” [HR. Muslim]

2⃣ Di akhir shalat fardhu (sebelum salam)

Dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, doa apakah yang didengarkan (dikabulkan)?” Beliau n menjawab: “Doa yang dipanjatkan di tengah malam yang akhir dan di akhir shalat wajib.” [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa`i dalam Al-Kubra]

Terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini. Apakah yang dimaksud “di akhir” dalam hadits di atas adalah sebelum salam atau sesudah salam. Dan pendapat yang rajih yakni bermakna sebelum salam. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Syaikh Utsaimin rahimahullah. Namun, telah tsabit pula dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau juga berdoa sebelum dan sesudah salam.

3⃣ Di antara adzan dan iqomah

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Tidak tertolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah.” [HR. Abu Dawud]

4⃣ Di sepertiga malam terakhir

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Rabb kita Yang Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir seraya berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku mengabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan apa yang dimintanya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” [HR. Muslim, Ahmad dan Lainnya]

5⃣ Ketika sedang safar dan berpuasa

Dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang sedang safar.” [HR. Al-Baihaqi, 3/345]

Perlu menjadi perhatian bahwa safar yang dimaksud adalah safar yang bukan bertujuan untuk melakukan kemaksiatan atau sesuatu yang haram.

6⃣ Pada hari Jumat

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya pada hari Jumat itu ada suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim memohon suatu kebaikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya, dan waktunya adalah setelah shalat ashar(*).” [HR. Ahmad]

(*)Yang dimaksud adalah di waktu antara ashar dan maghrib. Sebagaimana datang pada riwayat-riwayat yang lainnya.

7⃣ Ketika turun hujan dan dikumandangkan adzan

Dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata:  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر

“Dua doa yang tidak akan ditolak, yaitu: doa ketika adzan dan ketika turun hujan.” [HR. Abu Dawud]

8⃣ Ketika terbangun di waktu malam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang terbangun di waktu malam lalu mengucapkan:
Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir, subhaanallah walhaldulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billah.
Kemudian mengucapkan: “Allahumma fighrliy”
Atau berdoa, maka dikabulkan (doanya). Dan jika berwudhu’ kemudian melaksanakan shalat maka shalatnya diterima.” [HR. Al-Bukhari]

9⃣ Satu waktu di malam hari

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu yang tidaklah bersamaan dengan itu seorang muslim meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala kebaikan dari perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan permintaan tersebut, dan itu ada di setiap malam.” [HR. Muslim dan Ahmad]

🔟 Ketika dikumandangkannya adzan dan dirapatkannya barisan, berhadapan dengan barisan musuh di medan tempur

Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dua waktu/ keadaan yang di dalamnya dibukakan pintu-pintu langit dan jarang sekali tertolak doa yang dipanjatkan ketika itu, yaitu saat diserukan panggilan shalat (adzan) dan saat berada dalam barisan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala (ketika berhadapan dengan musuh di medan perang, pent).” [HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy dalam Al-Kubra]

1⃣1⃣ Doa pada hari Arafah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” [HR. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqy]

 

Pembaca rahimakumullah,

Demikianlah beberapa waktu mustajab yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan. Pandai-pandailah memanfaatkan segala sesuatu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala pilihkan untuk kita. Karena sejatinya, yang Allah subhanahu wa ta’ala pilihkan, itulah yang pasti terbaik untuk kita (sebagai hamba-Nya). Semoga doa-doa yang kita panjatkan, senantiasa dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Aamiin.
Wallahu a’lam.

🌍 Referensi: http://www.darussalaf.or.id/
📝 Oleh: Tim Kontributor Al-Faidah

 

💢 MEMPERPANJANG SUJUD DENGAN BERDOA, BERLEBIHANKAH?

[Pertanyaan] :
Bismillah. Afwan ustadz mohon jawabanya. Apakah termasuk berlebihan kalau kita dalam setiap sujud dalam sholat, terkhusus sholat sunnah, kita perpanjang sujudnya dengan berdoa? Jazakallahu khairan.
[Jawaban] :
Jika ia sebagai makmum, maka panjangnya masa sujud mengikuti Imam. Jangan memperlambat untuk bersegera bertakbir mengikuti Imam saat bangkit dari sujud karena alasan memperbanyak doa. Semestinya, saat Imam bertakbir bangkit dari sujud, makmum selanjutnya bersegera bertakbir mengikutinya

فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا

Jika Imam bertakbir, maka bertakbirlah [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Bahkan, jika ia sampai terlewat satu rukun dari Imam dengan sengaja, maka bisa batal sholatnya, sebagaimana dijelaskan Syaikh Ibn Utsaimin. Misalkan, saat Imam bangkit dari sujud menuju duduk di antara dua sujud, makmum masih sujud karena memperpanjang berdoa dalam sujud, bahkan ketika Imam kembali sujud berikutnya, makmum masih sujud, maka hal ini bisa membatalkan sholat makmum. Jika itu dilakukan makmum dengan sengaja dan Imam sudah thuma’ninah.
Jika ia sebagai Imam, maka ia perlu memperhatikan kondisi makmum. Jangan terlalu memperpanjang yang menyebabkan makmum kesulitan.

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

“Jika seseorang dari kalian memimpin shalat orang banyak, hendaklah dia meringankannya. Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang yang sakit dan orang berusia lanjut. Namun bila dia shalat sendiri silahkan dia panjangkan sesukanya.” [HR. al-Bukhari]

Jika ia sholat Sunnah sendirian, silakan ia perpanjang sesukanya (termasuk memperbanyak doa dalam sujud). Namun, adakalanya sholat Sunnah memang dianjurkan untuk diringkas, seperti sholat Sunnah sebelum sholat Subuh

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Adapun sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untuk kalian [HR. Muslim]

Wallahu A’lam

 

✏ Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafidzahullahu ta’ala, dan dikutip dari Grup WA al-I’tishom

🌍 Salafy Kendari || http://bit.ly/salafy-kendari

📥 Diarsipkan oleh www.happyislam.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *