PUASA ‘AASYUROO’ (9-10 MUHARROM)

PENGERTIANNYA:
Puasa ‘Aasyuroo’ adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9-10 bulan Muharrom, di mana dahulunya ia adalah puasa yang diwajibkan oleh Rosulullah صلى الله عليه وسلم sebelum digantikan dengan kewajiban puasa Romadhon. Di mana asalnya ia merupakan puasa yang sudah sejak awal diamalkan oleh Rosulullah صلى الله عليه وسلم, maupun oleh orang-orang jaahiliyyah dari kalangan ahlul kitaab, hingga akhirnya syarii’at islam menetapkannya sebagai bagian dari syarii’at ini yang baku.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) .
رواه البخاري ( 1794 ) ومسلم ( 1125 ) – واللفظ له

Dari ‘Aaisyah رضي الله عنها, dia telah berkata:
“Dahulu di masa jaahiliyyah orang-orang Quroisy senantiasa melaksanakan puasa ‘Aasyuroo’, dan Rosulullah صلى الله عليه وسلم juga melaksanakan puasa tersebut. Akan tetapi ketika beliau berhijroh ke Madiinah, beliaupun tetap berpuasa dan malah memerintahkan untuk mengamalkan puasa tersebut (dengan hukum wajib, pent.), hingga digantikan dengan datangnya kewajiban puasa Romadhoon, barulah beliau berkata: “Siapa yang mau berpuasa ‘Aasyuroo’, maka silahkan dia berpuasa, dan siapa pula yang mau, maka silahkan dia tidak berpuasa.” HR. Al-Bukhooriy (1794). Muslim (1125),

dan ini merupakan lafadzh darinya.

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) .
رواه مسلم ( 1126 ) .

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما:
“Bahwasanya sudah sejak dahulu orang-orang jaahiliyyah suka melaksanakan puasa hari ‘Aasyuroo’. Dan bahwasanya Rosulullah صلى الله عليه وسلم serta kaum muslimiin juga turut mengamalkannya sebelum diwajibkannya puasa Romadhoon. Maka tatkala telah diwajibkannya puasa Romadhoon, beliaupun صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya hari ‘Aasyuroo’ adalah di antara hari-hari yang telah diciptakan oleh Allah, maka barangsiapa yang mau, silahkan dia berpuasa padanya, dan barangsiapa yang mau, silahkan dia tidak berpuasa.” HR. Muslim (1126).

⚠ (Peringatan):
Orang-orang syii’ah menuduh bahwa puasa ‘Aasyuroo’ ini adalah puasa bid’ah yang diada-adakan oleh para penguasa Baniy Umayyah, namun dengan datangnya riwayat ‘Aaisyah dan Ibnu ‘Umar رضي الله عنهم, menunjukkan akan kedustaan tuduhan dan kejaahilan mereka yang telah menuduh bahwa riwayat haditsnya hanya datang dari ‘Aaisyah رضي الله عنها semata

قال ابن عبد البر – رحمه الله – :
وقد روى عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك مثل رواية عائشة ، رواه عبيد الله بن عمر ، وأيوب ، عن نافع ، عن ابن عمر أنه قال في صوم عاشوراء ” صامه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر بصومه ” .
” التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد ” ( 7 / 207 ) .

Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله telah berkata:
“Hadits puasa ‘Aasyuroo’ ini telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi صلى الله عليه وسلم, di mana isinya semisal dengan hadits riwayat ‘Aaisyah. Dan telah diriwayatkan pula oleh ‘Ubaidullah bin ‘Umar dan Ayyuub dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, yang menyebutkan bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa ‘Aasyuroo’ serta telah memerintahkan pula untuk melaksanakan puasa tersebut.” At-Tamhiid Limaa Fiil Muwaththo’ Minal Ma’aaniy wal Asaaniid (7/207).

قال النووي – رحمه الله – :
والحاصل من مجموع الأحاديث : أن يوم عاشوراء كانت الجاهلية من كفار قريش ، وغيرهم ، واليهود ، يصومونه ، وجاء الإسلام بصيامه متأكداً ، ثم بقيَ صومه أخف من ذلك التأكد .
” شرح مسلم ” ( 8 / 9 ، 10 ) .

An-Nawawiy رحمه الله telah berkata:
“Kesimpulan dari dikumpulkannya seluruh hadits menunjukkan bahwasanya hari ‘Aasyuroo’ adalah hari yang biasa dirayakan oleh orang-orang jaahiliyyah kalangan kaafir Quroiys dan selain mereka dari kalangan yahuudiy. Di mana mereka berpuasa di dalamnya, hingga datanglah islam yang semakin menegaskan wajibnya amalan tersebut, namun akhirnya diringankan hukumnya dari kewajiban menjadi puasa sunnah.” Syarhu Muslim (8/9-10).
وقال أبو العباس القرطبي – رحمه الله – :
وقول عائشة رضي الله عنها : ( كانت قريش تصوم عاشوراء في الجاهلية ) : يدل على أن صوم هذا اليوم كان عندهم معلوم المشروعية ، والقدر ، ولعلهم كانوا يستندون في صومه : إلى أنه من شريعة إبراهيم وإسماعيل ، صلوات الله وسلامه عليهما ؛ فإنهم كانوا ينتسبون إليهما ، ويستندون في كثير من أحكام الحج ، وغيره ، إليهما .
” المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم ” ( 3 / 190 ، 191 ) .

Abul ‘Abbaas Al-Qurthubiy رحمه الله telah berkata:
“Pernyataan ‘Aaisyah رضي الله عنها: “Dahulu Quroisy sudah biasa melaksanakan puasa ‘Aasyuroo’ di masa jaahiliyyah.” Hal ini menunjukkan bahwasanya puasa di hari ‘Aasyuroo’ tersebut adalah memang telah dikenal kedudukannya di dalam syarii’at mereka. Dan mungkin saja mereka menyandarkan puasa tersebut berasal dari syarii’at Ibroohiim dan Ismaa’iil. Karena kebiasaan mereka yang sering menisbahkan diri kepada syarii’at keduanya, bahkan di dalam banyak permasalahan hukum-hukum haji ataupun perkara selainnya kepada keduanya.” Al-Mufham Limaa Usykila Min Talkhiishi Kitaabi Muslim (3/190,191).
Untuk lebih rincinya silahkan pula merujuk kepada kitab Al-Mufashshil Fii Taarikhil ‘Arob Qoblal Islaam (11/339,340).

ALASAN KENAPA BERPUASA TANGGAL 9-10 MUHARROM:
روى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال : حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . رواه مسلم 1916
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas رضي الله عنهما, dia telah berkata:
“Ketika Rosulullah صلى الله عليه وسلم telah menetapkan pelaksanaan puasa ‘Aasyuroo’, maka beliaupun memerintahkannya pula untuk wajib melaksanakan puasa tersebut, hingga para shohabat bertanya: “Wahai Rosulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharrom adalah hari yang diagungkan oleh yahuudiy dan nashrooniy?!” Maka beliaupun berkata: “Jikalau masih ada tahun depan, maka kita juga akan berpuasa pada tanggal 9 Muharromnya.” Ibnu ‘Abbaas berkata: “Ternyata beliau tidak sempat lagi menjumpai tahun depan, dikarenakan telah wafatnya Rosulullah صلى الله عليه وسلم.” HR. Muslim (1916).
Asy-Syaafi’iy, Syaafi’iyyah, Ahmad, Ishaaq, dan selainnya berpendapat dianjurkannya berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharrom, dikarenakan Nabi telah melaksanakan puasa pada tanggal 10, tetapi telah berniat tahun depannya akan puasa juga di tanggal 9 nya.
قال النووي رحمه الله : ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ فِي حِكْمَةِ اسْتِحْبَابِ صَوْمِ تَاسُوعَاءَ أَوْجُهًا :
( أَحَدُهَا ) أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ , وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ ..
( الثَّانِي ) أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ , كَمَا نَهَى أَنْ يُصَامَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ ..
( الثَّالِثَ ) الاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلالِ , وَوُقُوعِ غَلَطٍ فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الأَمْرِ . انتهى
An-Nawawiy رحمه الله telah berkata:
“Para ‘ulamaa dari kalangan Syaafi’iyyah dan selainnya telah menyebutkan hikmah dari mengapa dianjurkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharromnya dengan beberapa alasan berikut ini:
1). Bertujuan untuk menyelisihi orang yahuudiy yang hanya berpuasa pada tanggal 10 nya saja, sebagaimana keterangan yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas …
2). Bertujuan untuk mewishol (menyambung berturut-turut) puasa hari ‘Aasyuroo’ dengan puasa lainnya, sebagaimana larangan Nabi dari melaksanakan puasa khusus hanya pada hari jum’at saja …
3). Bertujuan untuk sekedar kehati-hatian jikalau saja perhitungan bulan meleset dan terjadi kesalahan hitung, di mana dalam hitungan tanggal baru 9 Muharrom, namun ternyata yang benar adalah tanggal 10 Muharrom. demikian
Akan tetapi alasan yang paling kuat adalah untuk menyelisihi orang-orang kaafir.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : نَهَى صلى الله عليه وسلم عَنْ التَّشَبُّهِ بِأَهْلِ الْكِتَابِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ مِثْلُ قَوْلِهِ .. فِي عَاشُورَاءَ : ( لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ ) . الفتاوى الكبرى ج6
Syeikhul Islaam Ibnu Taimiyyah رحمه الله telah berkata:
“Rosulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang dari sikap tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang ahlul kitaab di dalam banyak hadits, semisal hadits … Di dalam puasa ‘Aasyuroo’: (Apabila aku masih hidup tahun depan, benar-benar aku akan berpuasa juga pada tanggal 9 nya).” Al-Fataawaa Al-Kubroo Juz. 6.
وقال ابن حجر رحمه الله في تعليقه على حديث : ( لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع ) :
” ما همّ به من صوم التاسع يُحتمل معناه أن لا يقتصر عليه بل يُضيفه إلى اليوم العاشر إما احتياطاً له وإما مخالفةً لليهود والنصارى وهو الأرجح وبه يُشعر بعض روايات مسلم ” انتهى من فتح الباري 4/245 .
Di dalam ta’liiq (catatan penjelasan) Ibnu Hajar رحمه الله terhadap hadits (Apabila aku masih mempunyai waktu di tahun mendatang, benar-benar aku akan berpuasa juga pada tanggal 9 nya), ia telah berkata:
“Tujuan utama dari puasa tanggal 9 bukanlah maksudnya adalah sengaja nanti tahun depannya hanya berpuasa di tanggal 9 nya saja, akan tetapi maksudnya adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 nya. Entah itu alasannya adalah sebagai bentuk kehati-hatian, atau di dalam rangka untuk menyelisihi yahuudiy dan nashrooniy, di mana inilah alasan yang paling kuat dari hal tersebut, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh sebagian dari riwayat-riwayat Muslim.” Demikian dari Fathul Baariy (4/245).

KEUTAMAANNYA:
” صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ” رواه مسلم 1162.
“Puasa hari ‘Arofah (9 Dzulhijjah) perhitungannya di sisi Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Sedangkan puasa hari ‘Aasyuroo’ perhitungannya di sisi Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” HR. Muslim (1162).
فعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ . ” رواه البخاري 1867
Dari Ibnu ‘Abbaas رضي الله عنهما, dia telah berkata:
“Aku tidak pernah melihat Nabi صلى الله عليه وسلم benar-benar mencari hari dan bulan untuk bisa berpuasa yang beliau utamakan di atas hari-hari maupun bulan selainnya melainkan puasa di hari ini, yakni hari ‘Aasyuroo’, dan puasa pada bulan ini, yakni bulan Romadhoon.” HR. Al-Bukhooriy (1867).

SEBAB DIANJURKANNYA PUASA ‘AASYUROO’:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا ؟ قَالُوا : هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ” رواه البخاري (١٨٦٥).
قوله : ( هذا يوم صالح ) في رواية مسلم ” هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه وغرّق فرعون وقومه ” .
قوله : ( فصامه موسى ) زاد مسلم في روايته ” شكراً لله تعالى فنحن نصومه ” .
وفي رواية للبخاري ” ونحن نصومه تعظيما له ” .
قوله : ( وأمر بصيامه ) وفي رواية للبخاري أيضا : ” فقال لأصحابه أنتم أحق بموسى منهم فصوموا ” .
Dari Ibnu ‘Abbaas رضي الله عنهما, dia telah berkata:
“Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم telah tiba di kota Madiinah, beliau baru melihat bahwa ternyata orang-orang yahuudiy juga berpuasa pada hari ‘Aasyuroo’, sehingga beliaupun bertanya apa alasannya mereka melakukan ibadah tersebut? Merekapun menjawab: “Karena hari ‘Aasyuroo’ adalah hari yang shoolih, yakni hari di mana Allah telah menyelamatkan Baniy Isroo-iil dari musuh mereka, sehingga Muusaapun berpuasa karenanya (sebagai rasa syukurnya kepada Allah, pent.).” Maka beliaupun berkata: “Diriku lebih berhak terhadap apa yang diamalkan oleh Muusaa daripada kalian.” Sehingga beliaupun berpuasa dan memerintahkan (umatnya, pent.) pula untuk melaksanakan puasa tersebut.” HR. Al-Bukhooriy (1865).
Lafadzh: “Haadza Yaumun Shoolih.” Di dalam riwayat Muslim datang dengan lafadzh: “Ini merupakan hari yang agung, yakni hari di mana Allah telah menyelamatkan Muusaa dan kaumnya, serta telah menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.”
Lafadzh: “Fashoomahu Muusaa.” Di dalam riwayat Muslim datang dengan tambahan lafadzh: “Sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka kamipun juga ikut berpuasa di hari tersebut.”
Sementara pada riwayat Al-Bukhooriy datang dengan lafadzh: “Kami berpuasa sebagai bentuk ta’dzhiim (pengagungan) atas hari tersebut.”
Lafadzh: “Wa Amaro Bi Shiyaamihi.” Di dalam riwayat Al-Bukhooriy datang dengan lafadzh: “Beliaupun berkata kepada para shohabatnya: “Kalian lebih berhak untuk mengikuti amalan Muusaa ketimbang mereka (yahuudiy, pent.), maka hendaknya kalian juga berpuasa.”

MAKNA DIHAPUSKANNYA DOSA SETAHUN SEBELUMNYA:
قال النووي رحمه الله :
يُكَفِّرُ ( صيام يوم عرفة ) كُلَّ الذُّنُوبِ الصَّغَائِرِ , وَتَقْدِيرُهُ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ كُلَّهَا إلا الْكَبَائِرَ .
ثم قال رحمه الله : صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ , وَيَوْمُ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ , وَإِذَا وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ … كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَذْكُورَاتِ صَالِحٌ لِلتَّكْفِيرِ فَإِنْ وَجَدَ مَا يُكَفِّرُهُ مِنْ الصَّغَائِرِ كَفَّرَهُ , وَإِنْ لَمْ يُصَادِفْ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً كُتِبَتْ بِهِ حَسَنَاتٌ وَرُفِعَتْ لَهُ بِهِ دَرَجَاتٌ , .. وَإِنْ صَادَفَ كَبِيرَةً أَوْ كَبَائِرَ وَلَمْ يُصَادِفْ صَغَائِرَ , رَجَوْنَا أَنْ تُخَفِّفَ مِنْ الْكَبَائِرِ . المجموع شرح المهذب ج6
An-Nawawiy رحمه الله telah berkata:
“Puasa hari ‘Arofah dapat menghapuskan semua dosa-dosa kecil, yakni semua dosa dari pelakunya, kecuali dosa-dosa besarnya.”
Selanjutnya beliau berkata lagi:
“Puasa hari ‘Arofah bisa menghapuskan 2 tahun, sedangkan puasa hari ‘Aasyuroo’ menghapuskan dosa setahun, demikian pula dengan orang yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat (yakni bersamaan dengan aminnya imam di dalam sholat berjamaa’ah, pent.) yang dapat menghapuskan dosa-dosa yang telah berlalu … Masing-masing dari amalan-amalan yang telah disebutkan tersebut adalah benar bisa menghapuskan dosa, selama didapati adanya dosa-dosa kecil pada diri orang yang mengamalkannya. Apabila orang itu tidak mempunyai dosa-dosa kecil dan tidak pula mempunyai dosa-dosa besar, maka amalannya itu ditulis sebagai kebaikan yang banyak, yang dengannya Allah mengangkat beberapa derajat kedudukan dari orang yang mengamalkannya … Namun apabila orang itu mempunyai satu dosa besar ataupun dosa-dosa besar dan sama sekali tidak punya dosa-dosa kecil, maka kita berharap semoga saja amalannya tersebut bisa meringankan dosa-dosa besarnya itu.” Majmuu’ Syarhil Muhadzdzab juz. 6.
وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : وَتَكْفِيرُ الطَّهَارَةِ , وَالصَّلاةِ , وَصِيَامِ رَمَضَانَ , وَعَرَفَةَ , وَعَاشُورَاءَ لِلصَّغَائِرِ فَقَطْ . الفتاوى الكبرى ج5 .
Syeikhul Islaam Ibnu Taimiyyah رحمه الله telah berkata:
“Thohaaroh (bersuci), sholat, puasa Romadhoon, puasa ‘Arofah, dan puasa ‘Aasyuroo’, hanya bisa menghapuskan dosa-dosa kecil semata.” Al-Fataawal Kubroo juz. 5.

Wallahu A’lamu.

📚Disusun Oleh: Abu ‘Abdillah Erlangga Dwi Kuncahyo📚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *