Kaya Tak Selalu Berlimpah Harta

kajian saad bin abi waqqash

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita jalan Islam. Segala sanjungan untuk-Nya, Dialah yang memberi taufik atas kita untuk menempuhnya. Mudah-mudahan Dia menyampaikan kita hingga akhir masa dalam kondisi tetap beristiqamah di atas jalan itu. Sungguh beruntung seorang yang diberi keislaman, diberi rezeki ‘pas-pasan’, namun jiwanya ‘kaya’ dengan qana’ah.

🌷 Orang tua yang bijak dan mengerti hakikat kehidupan, saya rasa tidak akan terluput untuk memberi nasihat putra-putrinya agar menjadi manusia berjiwa qana’ah. Putra yang sudah menapaki hidup berumah tangga atau yang belum berpikir sampai ke sana sangat perlu diarahkan dari sisi ini. Bahkan sejak dini semestinya terus dilatih untuk memiliki jiwa itu.

🔥 Ya, di satu sisi mereka harus disulut api semangatnya agar tidak suka bertopang dagu berpangku tangan, ingin memenuhi apa yang dibutuhkan namun dengan cara mengiba menunggu belas kasihan. Ditempa mentalnya untuk menjadi pria sejati yang siap menarik lengan baju, bekerja mencari harta yang halal untuk menghidupi diri dan keluarga. Dan sisi lain mereka sangat perlu disadarkan untuk tidak memandang dunia sebagai tujuan hidupnya.

💎 Terbiasa qana’ah dengan apa yang Allah beri menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Itulah petuah dari seorang tua teruntuk pewaris keluarga dan penerus perjuangan. Nasihat tulus dari seorang penasihat bagi saudaranya. Namun pesan bijak tak selalu diterima dengan baik. Bisa jadi menimbulkan berbagai reaksi.

🖇 Ada yang merasakan adem mendengar pesan-pesan itu, hatinya menjadi plong setelah dililit frustasi sebab impian tak kunjung terbukti. Pahit-getir kegagalan yang lebih sering ditelan daripada mengecap buah usaha berangsur tawar. Ada yang menganggap sepi tak peduli. Tak jarang pula diperoleh orang-orang yang memang alergi. Sehingga hatinya makin gatal. Dorongan menggaruk dunia, bukan sembuh malah tambah menjadi.

🌎 “Dunia harus kugenggam”, tekadnya.

✊🏼 “Yang di tangan ini belum seberapa. Belum cukup untuk bekal hidupku. Apatah lagi untuk sebuah kelayakan?”
Tak sedikit juga yang coba membantah pesan-pesan itu dengan ‘ilmiah’, memandangnya sebagai patahan-patahan kalimat yang kurang ‘konstruktif’. Pandangan yang justru mengendurkan tekad dan mematahkan semangat.

💨 Ada lagi yang murka dengan petuah-petuah tadi. Akibatnya, Ia tidak mau begitu saja menerima takdir. Berburuk sangka kepada Allah. Sulit meridhai pemberian-Nya. Rumah terasa sempit, makan-minum tak lagi nikmat, baju yang masih baik dianggapnya usang, kendaraan ikut terkesan jadul dan butut.

💧Duhai sekiranya dalam kalbu ada embun-embun qana’ah, niscaya rumah sederhananya yang cukup sebagai tempat peristirahatan adalah rumah idaman. Kendaraan tua yang bisa mengantarnya dari satu ke tempat lain, untuk satu ke urusan berikutnya adalah kendaraan ideal. Makanan ala kadar yang asal bisa menegakkan tulang punggung adalah hidangan istimewa, baju yang menutupi auratnya sudah sangat serasi. Kurang apalagi?

📌 Mestinya cukup memang. Namun tetap saja, masih banyak jiwa-jiwa yang belum bisa qana’ah, justru antipati dengannya. Subhanallah. Mungkin ada salah paham. Bisa jadi ada pembiasan dalam memaknai qana’ah.

🔎 Kalau memang itu pangkal persoalannya, mari kita pelajari lagi tentang qana’ah. Semoga akhlak yang mulia ini terpahami dengan benar. Dengan itu niscaya masing-masing jiwa akan merindukan qana’ah, berharap mendapatkannya, berusaha keras meraihnya, berlomba menggapai ‘hadiah’ yang lebih berharga dari harta ‘qarun’. Bahkan berjuta kali lipatnya.

 

✍🏻 Ustadz Fauzi Abu Humayd

📊 Sumber : http://tashfiyah.com/kaya-tak-selalu-berlimpah-harta/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *