Hal-hal yang tidak termasuk Ghibah

 

Nabi telah menjelaskan bahwa ghibah adalah “engkau menyebutkan tentang saudaramu hal-hal yang dia benci”. Adapun hal-hal yang tidak termasuk ghibah diantaranya adalah:

🔺[1] Jika orang yang dibicarakan bukanlah seorang muslim:

▪ Nabi menyatakan bahwa ghibah adalah dzikruka akhoka (engkau menyebutkan tentang saudaramu). Sedangkan orang non muslim tidaklah dianggap sebagai saudara (seagama).

▪ Ini adalah pendapat Ibnul Mundzir sebagaimana dinukil oleh as-Shon’aany dalam Subulus Salam.

🔺[2] Jika yang dibicarakan adalah orang yang hanya dikenal/ dilihat oleh pembicara, namun tidak dikenal oleh orang lain (para pendengar).

▪ Contoh: Pembicara mengatakan: Ada seseorang yang melakukan hal begini dan begini. Sedangkan yang diajak bicara tidak tahu siapa orang yang dimaksud, siapa namanya, berasal dari mana, dan sebagainya.
Hal ini berdasarkan hadits Ummu Zar, yaitu Aisyah menyampaikan kepada Nabi kisah 11 orang wanita yang saling menceritakan keadaan suami masing-masing, namun semua tidak tahu dan tidak kenal rupa dengan si suami wanita-wanita yang bercerita itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar dengan sabar cerita Aisyah dari awal sampai akhir namun beliau tidak mengingkari perbuatan Aisyah dan tidak menganggapnya sebagai ghibah.

▪ Namun, jika kedua orang membicarakan orang lain yang pernah mereka lihat bersama-sama meski bukan orang yang mereka kenal, maka itu dikira ghibah. Misalkan mengatakan: “Lihat orang itu, dia melakukan begini dan begitu…”. Ini jelas adalah ghibah.

🔺[3] Jika yang dibicarakan adalah hal-hal yang disenangi, bukan hal yang dibenci oleh orang yang dibicarakan.

▪ Seandainya orang yang dibicarakan mengetahui hal itu, ia tidak akan membencinya, namun malah menyukainya. Karena Nabi mendefinisikan ghibah dengan ‘bimaa yakroh’ (sesuatu yang dia benci).

🔺[4] Jika yang menjadi objek pembicaraan tidak paham dengan maksud pembicaraan, karena ia adalah orang yang tidak berakal.

▪ Karena itu mereka tidak akan membenci apa yang dibicarakan. Hal ini diisyaratkan oleh as-Shon’aany dalam Subulus Salam, seperti orang gila.

▪ Mungkin juga yang masuk kategori ini adalah anak yang masih kecil belum tamyiz tidak tahu apa-apa.

 

📚 [Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafi’i)”]

📝Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *