Dikecualikan Ghibah Dalam 6 Keadaan

 

Para Ulama’ menjelaskan ada 6 hal yang diperkecualikan boleh melakukan ghibah:

▶[1] ORANG YANG DIDZHALIMI

▪Menyampaikan pengaduan kedzhaliman yang diterimanya dari seseorang kepada penguasa atau orang yang memiliki kemampuan untuk mencegah dan menghambatnya.

▪Seseorang yang didzhalimi boleh menyebutkan keburukan-keburukan pihak yang mendzhaliminya sebatas kedzhaliman itu saja, tidak pada hal-hal lain.

🔸Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

{ لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا }

“Allah tidaklah menyukai ucapan keras tentang keburukan kecuali dari orang yang terdzhalimi dan Allah adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS anNisaa’: 148]

[2] MEMINTA PERTOLONGAN UNTUK MERUBAH KEMUNKARAN

▪Menjelaskan kepada orang yang mampu untuk merubah kemunkaran yang dilakukan seseorang.

🔺Misalkan, berkata: Fulan telah minum khamr, peringatkan dia untuk berhenti minum khamr.

[3] MEMINTA FATWA

▪Meminta fatwa kepada Ulama’ tentang keadaan seseorang yang terkait dirinya.

▪Atau, meminta pertimbangan tentang keadaan seseorang yang akan melamar atau dilamar dalam pernikahan.
✅Orang yang mengerti keadaan sang pelamar atau orang yang akan dilamar harus menjelaskan keadaannya meskipun harus menyebutkan sisi-sisi keburukan.

🔸Ketika Fathimah bintu Qoys dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, beliau meminta pertimbangan. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menyatakan:

{ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ. }

“Adapun Abu Jahm tidak pernah menurunkan tongkat dari pundaknya (suka memukul atau sering safar), sedangkan Muawiyah miskin tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” [HR Muslim, no. 2709]

[4] MENYEBUTKAN TENTANG ORANG YANG TERANG-TERANGAN BERBUAT KEFASIKAN DAN KEBID’AHAN (AHLUL BID’AH)

🔸Al-Hasan al-Bashri (salah seorang tabi’in) menyatakan:

{ لَيْسَ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ وَلاَ لِفَاسِقٍ يُعْلِنُ بِفِسْقِهِ غِيْبَة. }

“Tidak ada ghibah untuk Ahlul Bid’ah dan orang yang terang-terangan menampakkan kefasikannya.”

[Riwayat al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal Jamaah]

▶[5] MEMPERINGATKAN KAUM MUSLIMIN TENTANG KEADAAN SESEORANG YANG MEMILIKI SIFAT; SIKAP; DAN PEMIKIRAN YANG MEMBAHAYAKAN

🔸Seperti yang disebutkan dalam hadits Aisyah ketika datang seorang laki-laki meminta ijin akan menemui Nabi, Nabi kemudian berkata kepada Aisyah:

{ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ }

“Dia adalah seburuk-buruk saudara suatu kaum.”

[HR al-Bukhari, no. 5594 pada Bab ‘Bolehnya berghibah terhadap orang-orang yang merusak dan ragu’]

🔼Termasuk dalam kategori ini adalah menjelaskan tentang keadaan perawi-perawi hadits, ada yang lemah dan pendusta. Semua ini bukan ghibah yang dilarang.

[6] TA’RIF, PENGENALAN TENTANG SESEORANG BUKAN DALAM RANGKA MENYEBUT AIBNYA, NAMUN KARENA DIA TELAH DIKENAL LUAS DENGAN KEADAAN ITU

🔸seperti sebutan: si kurus, si keriting, dan sebagainya.

🔼Sebagian Ulama’ mempersyaratkan sebutan itu tidaklah dibenci oleh orang yang dibicarakan. Sebaiknya jika boleh menggunakan sebutan lain selain ciri-ciri fisik tersebut, itu lebih utama.

🔸Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebut salah seorang Sahabat dengan Dzul Yadain yang artinya yang memiliki 2 tangan, kerana tangannya panjang dan sudah dikenal luas dengan sebutan itu. Ketika Sahabat itu mengingatkan Nabi bahwa solat yang biasanya 4 rakaat hanya beliau lakukan 2 rakaat, Nabi bertanya kepada para Sahabat yang lain:

{ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْن }ِ

“Apakah benar apa yang disampaikan Dzul Yadain?”

[HR al-Bukhari, no. 6709 dan Muslim, no. 897]

 

📚[Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafi’i)”]

📝Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *