Apa Itu Nikah Mut’ah? (4 – selesai)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Apa Itu Nikah Mut’ah?

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

4⃣
Apakah Syiah Rafidhah Itu Muslim?
Apakah boleh menamakan Rafidhah dan orang-orang Iran sebagai kaum muslimin?
Asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab,

“Rafidhah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa. Mereka ini tidak boleh kita kafirkan dan hukum asal mereka adalah Islam. Di antara mereka ada yang mengetahui akidah Rafidhah dan meyakininya, ini yang teranggap kafir. Yang saya maksudkan adalah akidah Khomeini.

Siapa di antara mereka yang meyakini akidah Khomeini atau akidah al-Kulaini penulis al-Kafi, dia kafir. Di antara mereka ada ulama yang tidak meyakini akidah tersebut, tetapi mereka terus-menerus di atas Rafidhahnya, maka mereka adalah mubtadi’.

Jadi, kita harus adil dalam hal ini. Siapa di antara mereka yang akidahnya seperti akidah Khomeini atau al-Kulaini, barulah dia dianggap kafir.
Mengapa kita mengatakan Khomeini kafir? Karena dia mengatakan sebagaimana dalam al-Hukumah al-Islamiyah, “Sungguh, para imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh seorang nabi yang diutus, tidak pula bisa dicapai oleh malaikat yang dekat.” Ini baru satu kesesatan.

Yang kedua, “Nash-nash yang disampaikan oleh para imam kita sama dengan nash-nash al-Qur’an.”

Yang ketiga, “Sungguh, para nabi dan para imam ahlil bait tidak sukses melaksanakan tugas mereka sebagaimana kesuksesan yang akan diraih oleh al-Mahdi dalam tugasnya.”

Yang dimaksud al-Mahdi adalah khurafat mereka, yaitu penghuni Sirdab. Siapa yang meyakini akidah semacam ini, dia kafir. Wallahul musta’an.
Orang-orang awamnya tidak boleh kita hukumi kafir. Demikian pula ulama mereka yang tidak meyakini akidah tersebut dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur.”

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 526—527)
[1] Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa serta istri kami.

Kami berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kita mengebiri diri kita?’ Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukannya.

Beliau memberi rukhshah untuk kami menikahi perempuan setempat dengan mahar berupa pakaian sampai tempo waktu tertentu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, –pent.)
[2] HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. (–pent.)
[3] Kata Sabrah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami melakukan mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami masuk kota Makkah. Tidaklah kami keluar dari Makkah hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan mut’ah.” (HR Muslim, –pent.)
[4] Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah. (–pent.)
[5] HR. al-Bukhari dan Muslim. (–pent.)
[6] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.
[7] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh

Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.
[8] Dahulu pernah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang. (–pent.)
[9] Kalau masih lajang dicambuk 100 kali dan diasingkan. Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Penegakan hukum had ini dilakukan oleh pihak penguasa, bukan individu atau kelompok. (–pent.)
Selesai

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

↘ join telegram ⬇

Sumber, http://asysyariah.com/apa-itu-nikah-mutah/

Feb 23, 2017 Asy Syariah Edisi 114, Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah

🌐 http://bit.ly/FadhlulIslam

🔎 salafymedia.com

📡 Publikasi:

📚  WA Fadhlul Islam Bandung

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Turut mempublikasikan www.ahlussunnahcengkareng.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *